Konseling individual

 Konseling individual yaitu pertemuan antara konselor dengan seorang klien secara individual, di mana terjadi hubungan konseling yang bernuansa rapport (saling memahami dan mengenal tujuan bersama). Konselor akan berupaya memberi bantuan untuk mengembangkan pribadi klien agar klien dapat mengantisipasi permasalahan yang sedang dihadapi. 

Melalui metode tatap muka, dilaksanakan interaksi langsung antara konselor dengan klien. Mereka membahas berbagai hal tentang permasalahan yang sedang dihadapi oleh klien tersebut. 

 

Pembahasan tersebut bersifat mendalam, menyentuh hal-hal penting yang berhubungan dengan diri klien (bahkan tidak menutup kemungkinan menyangkut rahasia pribadi diri klien), bersifat meluas meliputi berbagai sisi yang menyangkut permasalahan klien, namun juga bersifat spesifik menuju ke arah penyelesaian masalah.


Berkaitan dengan hal tersebut, masalah klien harus dicermati dan diupayakan penyelesaiannya sedapat-dapatnya dengan kekuatan diri klien sendiri. 


Tujuan umum konseling individual adalah terselesaikannya permasalahan yang dihadapi klien. Apabila masalah konseling ini dicirikan antara lain: 

Sesuatu yang tidak disukai keberadaannya; 

Sesuatu yang ingin dihilangkan; 

Sesuatu yang dapat menghambat dan menimbulkan kerugian;

Maka upaya penyelesaian masalah klien melalui konseling individual tujuannya untuk mengurangi intensitas ketidaksukaan atas keberadaan sesuatu yang di maksud.

 

Dengan konseling individual beban klien diharapkan dapat diringankan, kemampuan klien dapat ditingkatkan, dan potensi klien dapat dikembangkan kapasitasnya dan dapat memahami akan dirinya mengenai masalah yang dihadapi. 


Menurut Gibson, Mitchell dan Basile ada sembilan tujuan dari konseling individu, yakni:


1) Tujuan perkembangan; yakni klien dibantu dalam proses pertumbuhan dan perkembanganya serta mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi pada proses tersebut (seperti perkembangan kehidupan sosial, pribadi, emosional, kognitif, fisik, dan sebagainya).

2) Tujuan pencegahan; yakni konselor membantu klien menghindari hasil-hasil yang tidak diinginkan. 

3) Tujuan perbaikan; yakni konseli dibantu dalam mengatasi dan menghilangkan perkembangan yang tidak diinginkan. 

4) Tujuan penyelidikan; yakni menguji kelayakan tujuan untuk memeriksa pilihan-pilihan, pengetesan keterampilan, dan mencoba aktivitas baru dan sebagainya. 

5) Tujuan penguatan; yakni membantu konseli untuk menyadari apa yang dilakukan, dipikirkan, dan dirasakannya sudah baik.

6) Tujuan kognitif; yakni menghasilkan pondasi dasar pembelajaran dan keterampilan kognitif.

7) Tujuan fisiologis; yakni menghasilkan pemahaman dasar dan kebiasaan untuk hidup sehat. 

8) Tujuan psikologis; yakni membantu mengembangkan keterampilan sosial yang baik, belajar mengontrol emosi, dan mengembangkan konsep diri positif dan sebagainya.

Komentar